Cari Blog Ini

Minggu, 20 November 2016

Artikel Ilmiah

Mengembangkan Kreativitas Siswa dalam Pembelajaran Matematika Melalui Pembelajaran Creative Problem Solving*
Ezi Apino
Pendidikan Matematika S2, Universitas Negeri Yogyakarta
apinoezi@gmail.com


Abstrak—Salah satu keterampilan yang perlu dimiliki oleh individu sebagaimana disebutkan dalam “21 century skills” yaitu berpikir kreatif. Hal ini sejalan dengan tujuan pembelajaran matematika di Indonesia yang salah satunya mengkehendaki siswa memiliki kemampuan berpikir kreatif. Dengan demikian berpikir kreatif memiliki peranan penting untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia agar mampu bersaing di era globalisasi dan modernisasi. Fakta dilapangan menunjukkan bahwa kemampuan berpikir kreatif siswa di Indonesia, khususnya dalam pembelajaran matematika masih rendah. Salah satu alternatif yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kemampuan berpikir kreatif siswa dalam pembelajaran matematika yaitu melalui pembelajaran creative problem solving. Artikel ini akan mengupas apa itu creative problem solving, hubungannya dengan pengembangan kreativitas siswa dan seperti apa pengimplementasiannya dalam pembelajaran matematika.
            Kata kunci: Berpikir Kreatif, Creative Problem Solving
____________________________________________________________________
*Artikel dipresentasikan dalam Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika, FMIPA UNY, 5 November 2016.
Artikel lengkap dapat didownload melalui link berikut:

Jumat, 18 November 2016

Toleransi Siswa dalam Pembelajaran Matematika

Beberapa waktu yang lalu, ketika saya mengikuti seminar di Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta(16/11) dan berkesempatan untuk mempresentasikan artikel tentang toleransi siswa dalam pembelajaran matematika. Mungkin karena toleransi saat ini menjadi salah satu isu sensitif dan trending topik di Indonesia, bahkan dunia, menjadikan para peserta sidang paralel saat itu cukup antusias untuk bertanya terkait pengintegrasian nilai toleransi, khususnya dalam pembelajaran matematika. Beberapa pertanyaan yang diajukan saat itu adalah bagaimana mengukur toleransi siswa dalam pembelajaran matematika dan instrumen yang digunakan seperti apa. Sebenarnya jawabannya sederhana saja, karena toleransi ini termasuk sebagai salah satu variabel afektif dan merupakan salah satu karakter yang termuat dalam KI 2 (Sikap Sosial), maka cara mengukurnya yang paling sederhana adalah menggunakan angket. Berikut akan saya share contoh angket toleransi siswa dalam pembelajaran matematika yang saya kembangkan dan digunakan ketika melakukan Penelitian Tindakan Kelas di salah satu sekolah di DI Yogyakarta. Adapun angket tersebut dalam bentuk inventaory yang terdiri dari 15 butir pernyataan dan masing-masing butir terdiri dari 5 pilihan respon. Bagi yang membutuhkan contoh ataupun referensi tentang angket toleransi tersebut silahkan download melalui link berikut:
Demikian postingan saya kali ini, semoga bermanfaat.

Sabtu, 12 November 2016

Contoh LKS Model CPS Berorientasi HOTS

Bagi yang memerlukan contoh LKS untuk memfasilitasi siswa dalam mengembangkan kemampuan berpikir tingkat tinggi (HOTS) silahkan download pada link berikut:
LKS HOTS Trigonometri
Manual LKS HOTS Trigonometri

Semoga Bermanfaat.

Contoh RPP Model CPS Berorientasi HOTS

Salah satu model pembelajaran yang dapat digunakan untuk meningkatkan Higher Order Thinking Skills (HOTS) siswa yaitu model Creative Problem Solving (CPS). Secara operasional langkah CPS terdiri dari penemuan tujuan (objective-finding); (2) penemuan fakta (fact-finding); (3) penemuan masalah (problem-finding); (4) penemuan berbagai ide (ideas-finding); (5) penemuan solusi (solution-finding); dan (6) penemuan penerimaan (acceptance-finding). Adapun contoh RPP model CPS berorientasi HOTS dapat di download melalui link berikut:

Untuk contoh LKS-nya akan dipublish pada postingan berikutnya.
Semoga bermanfaat!

CPS

Creative Problem Solving to Improve Students’ Higher Order Thinking Skills in Mathematics Instructions

Ezi Apino1, Heri Retnawati2
1Master Program of Mathematics Education, Yogyakarta State University
2Faculty of Mathematics and Natural Science, Yogyakarta State University
apinoezi@gmail.com

 AbstractThe 21st century skills requires students not only have the conceptual knowledge, but also must have the skills to think and skill in the application of knowledge. High order thinking skills (HOTS) is one of the skills that students required to face the competition in the 21st century. One effort that can be done to improve students’ HOTS namely through the implementation of creative problem solving (CPS) models in mathematics instruction. CPS can be implemented in mathematics instructions through the steps: (1) finding the objective of the problems (objective-finding); (2) analyzing facts or informations from the problems (fact-finding); (3) analyzing the important questions from the problem (problem-finding); (4) exploring ideas to solve the problem (idea-finding); (5) analyze the advantages and disadvantages of the ideas found (solution-finding); and (6) making the conclusion from the process of problem solving (acceptance-finding). CPS can improve students' HOTS because: (a) the product or outcomes of learning by using CPS can be used to evaluate high order thinking skills; (b) present a meaningful learning activities; (c) effectively used individually or groups; (d) empower students to construct the knowledge; (e) as a variation in learning activities that involve problem solving; (f) fostering the understanding that not all the problems have only one solution that is right; and (g) presentation of challenging problems (creative problem) can attract and motivate students to learn.
Keywords: creative problem solving, higher order thinking skills, mathematics instructions

Artikel lengkap dapat di download di: https://scholar.google.co.id/citations?view_op=view_citation&hl=id&user=I3CpvlQAAAAJ&citation_for_view=I3CpvlQAAAAJ:2osOgNQ5qMEC

Meningkatkan Toleransi Siswa dalam Pembelajaran Matematika Melalui Penerapan Model Guided Discovery Setting Pembelajaran Kooperatif Tipe Think Pair Share

Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan toleransi siswa dalam pembelajaran matematika menggunakan model guided discovery setting pembelajaran kooperatif tipe TPS pada kelas X MIPA 5 MAN Yogyakarta 3. Penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas yang dilaksanakan sebanyak 2 siklus, dimana setiap siklusnya terdiri dari tahap perencanaan (planning), tindakan (action), pengamatan (observation), dan refleksi (reflection). Hasil penelitian menunjukkan bahwa untuk meningkatkan toleransi siswa dalam pembelajaran matematika menggunakan model pembelajaran guided discovery setting pembelajaran kooperatif tipe TPS dapat dilakukan dengan cara: (a) pembagian kelompok yang terdiri dari keragaman tingkat kemampuan akademik, gender, suku, ras, dan budaya; (b) mendorong setiap siswa untuk mengemukakan pendapat dalam menyelesaikan masalah, baik secara tertulis maupun lisan; (c) membiasakan siswa membuat kesepakatan untuk menentukan jawaban/penyelesaian terbaik, apabila terdapat perbedaan jawaban/penyelesaian dari suatu masalah; dan (d) menyajikan masalah terbuka yang menuntut beragam cara penyelesaian dan atau beragam jawaban, agar siswa terbiasa saling berargumen, saling mendiskusikan, saling memberi dan menerima saran dan kritik, serta saling menghargai satu sama lain.

Kata Kunci: guided discovery; pembelajaran kooperatif; pembelajaran matematika; think pair share; toleransi siswa

Artikel lengkap dapat di download di: https://scholar.google.co.id/citations?view_op=view_citation&hl=id&user=I3CpvlQAAAAJ&citation_for_view=I3CpvlQAAAAJ:9yKSN-GCB0IC

Kamis, 23 Oktober 2014

Saintifik VS Spiritual

Belakangan ini pemerintah lagi gencar-gencarnya melakukan sosialisasi tentang implementasi kurikulum 2013. Kurikulum yang dirancang sebagai trobosan baru bagi dunia pendidikan di Indonesia yang diharapkan menjadi jawaban atas permasalahan rendahnya kualitas pendidikan di Indonesia. Pemerintah melalui kebijakannya mewajibkan seluruh sekolah di bawah naungan kementerian pendidikan dan kebudayaan untuk menerapkan kurikulum 2013. Dalam rangka mendukung kebijakan tersebut, pemerintah juga melakukan program pelatihan yang diadakan untuk memberikan bekal bagi para guru dalam mengimplementasikan kurikulum 2013 tersebut. Namun, pertanyaannya adalah sejauh manakah kurikulum 2013 ini dapat berkontribusi untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia yang dengan latar belakang sosial dan budaya masyarakatnya yang tentunya sangatlah berbeda dengan dunia barat?